Sunday, July 09, 2006

 

Saya Jamin Gus Dur tak Mengusulkan

NAMANYA Zannuba Arrifah Chofsoh. Sehari-hari ia biasa disapa Yenny. Anak kandung Gus Dur itu kemarin namanya masuk dalam struktur DPP PKB pimpinan Muhaimin Iskandar. Posisinya Wakil Sekjen. Benarkah naiknya Yenny berkat katrolan dari Gus Dur? Jangan-jangan Yenny masuk parpol karena ngincar kursi RI 1? Berikut wawancara wartawan Persda Achmad Subechi dengan Yenny.

Apa komentar Anda setelah ditunjuk menjadi Wasekjen DPP PKB?
Saya belum dihubungi dan ditanyain secara langsung mengenai kesediaan saya. Terus terang saya tidak tahu. Justru saya baru tahu nama saya masuk menjadi wakil sekjen setelah Anda hubungi.
Anda tadi tidak ikut mengantarkan Gus Dur saat jumpa pers. Kenapa?
Tidak.... Wong urusan begitu masak saya harus ikut.
Apa Anda bersedia menjadi pengurus DPP?
Ya nanti dulu.... Baru setelah saya dihubungi dan diminta dan mendapatkan penjelasan dari Ketua Umum PKB, saya akan menentukan sikap.
Apa yang akan Anda berikan kepada partai ke depan?
Saya punya beberapa pengalaman dan wawasan yang mungkin agak berbeda dengan kader-kader partai lainnya. Sebab sesuai pengalaman hidup saya, saya pernah jadi wartawan, pernah lama di luar negeri, pernah membantu Bapak ketika berada di pemerintahan. Saya berharap wawasan itu mungkin dilihat oleh teman-teman sebagai nilai lebih kalau memang nama saya masuk dalam struktur PKB yang baru.
Sebenarnya masih ada rasa kekhawatiran saya bahwa orang akan menilai saya bisa duduk di posisi wakil sekjen karena ada drop-dropan dari atas. Padahal ini permintaan dari bawah.
Publik pasti akan menilai bahwa naiknya Anda karena faktor Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro. Komentar Anda?
Pada satu titik saya harus membuktikan dengan kinerja. Sebetulnya kalau mau adil juga, kemarin (Muktamar) memang ada beberapa pertemuan. Misalnya utusan Sumatera bagian utara meminta saya supaya bergabung di PKB. Lalu pada pandangan umum kemarin, NTB dan Bali meminta saya untuk dicalonkan sebagai formatur. Alhamdulillah... ada orang- orang dari bawah yang bisa mengaspresiasi kehadiran saya. Itu yang lebih penting buat saya. Kalau suara pengamat pasti sumbang dan kita tidak bisa menyenangkan hati pengamat. Terpenting cabang-cabang merasa kehadiran saya bisa memberikan nilai tambah. Kalau enggak ngapain diminta.
Masuknya Anda di DPP merupakan titik awal Anda berkarir di dunia politik. Apa Anda ingin jadi presiden?
Waduh.... wedih aku rek (takut). Takut bukan kenapa-kenapa.. Yang saya takutkan bukan pertarungannya, tetapi memberi dan memberi... Apalagi kalau berkecimpung di partai, itu isinya memberi saja. Memberi waktu, tenaga, uang dan lain sebagainya. Itu kalau kita memiliki niat tulus terjun ke dunia politik untuk mengejar tujuan bukan untuk kepentingan pribadi.
Buat saya, saya ingin melihat PKB besar. Itu memang cita-cita saya. Makanya semangat itu mengelora dalam diri saya. Saya tahu kalau terjun langsung, pengorbanan yang diminta itu sangat luar biasa. Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri apakah saya siap?
Gus Dur apa setuju Anda masuk PKB?
Buktinya kalau nama saya sudah diumumkan berarti Bapak setuju. Bapak itu ndak pernah ini... apalagi buat anak- anaknya. Saya rasa beliau menyerahkan kepada formatur yang lain. Bahkan saya jamin mengusulkan saya saja tidak. Kan enggak enak kalau Bapak ikut menentukan.
Kenapa pengurus DPP PKB masih muda-muda?
Ya ini untuk mengantisipasi perkembangan zaman kan. Jadi roh gairah dinamisme itu memang ada pada anak muda yang memiliki suntikan semangat.
Apa solusi untuk menyelesaikan konflik internal di DPP PKB saat ini?
Kuncinya adalah ambisi pribadi atau individu masing-masing harus dikesampingkan dan kepentingan partai diutamakan. Jadi di sini bukan ego atau perasaan emosional lagi yang bermain, tapi keinginan untuk membesarkan partai. Memang untuk memanage partai membutuhkan pengorbanan atau perasaan. Agar persoalan di PKB selesai Muhaimin harus melakukan pendekatan dengan cara pro aktif. Muhaimin harus mengetuk pintu...
Apa harus melobi kiai-kiai?
Menurut saya bukan pada kiai-kiai. Kiai-kiai itu kan 'dimainkan'. Siapa yang memainkan? Ya enggak usah disebutlah. Dan mereka yang memainkan pasti mempunyai kepentingan terhadap PKB. Kepentingannya apa, harus kita telusuri. Apakah bisa dipenuhi tanpa mengabaikan tujuan PKB ke depan. Kalau memang bisa kenapa enggak?
Sejumlah pengamat politik menilai dengan performan DPP PKB yang baru ini perolehan suara PKB 2009 akan menurun. Komentar Anda?
Para kiai dan figur-figur penting di masyarakat memang masih memegang peranan. Tapi kalau menurut saya pemilih di Indonesia ini agak unik. Artinya independen betul ya enggak, tapi dibilang.... Jadi semuanya tergantung pada figur-figur paternalnya dan parpolnya. Apa mereka bisa meyakinkan konstituennya dengan kinerja yang berpihak kepada rakyat atau tidak. Jadi semuanya kembali kepada kinerja parpol.
Tapi kalau kita melakukan pendekatan dan mau berjuang dan bekerja keras demi rakyat, maka kemungkinan suara tidak akan menyusut malah makin membesar. Kedua, tergantung strategi besar kedepan PKB, bukan hanya Jawa Timur centris saja yang diharapkan bisa mendongkrak suara.
Selain itu kehadiran anak-anak muda dengan dinamisme atau suntikan energi yang mereka bawa saya yakin PKB akan besar. Itu kuncinya. Jadi kalau PKB mau membuktikan diri sebagai partai yang peduli kepada rakyat dan hanya sekedar sebagai wacana, saya kok enggak terlalu khawatir dengan pendapat para pengamat. Ibaratnya partai-partai yang dekat pemerintah jualan bubur kacang hijau, kalau PKB konsisten maka PKB akan menawarkan jualan yang lain, misalnya bubur ketan hitam maka dapat dipastikan nilainya akan mahal.
Bagaimana dengan PKB di Jawa Timur?
Kita harus introspeksi sebenarnya yang membesarkan PKB di Jatim itu adalah mbah-mbah kita. Artinya, kerja yang telah dilakukan Mbah-Mbah kita sehingga NU kuat disana. (achmad subechi)


Read more!

This page is powered by Blogger. Isn't yours?